Long Distance Marriage, Again..
Hi, semua.. dalam tulisan ini aku mau bercerita tentang pernikahan jarak jauh, atau biasa disebut long distance marriage (LDM), versi keluargaku.
Berkenaan dengan judul, ada kata "again" atau lagi. Hmm.. berarti sebelumnya sudah pernah dong?. Yups tepat sekali. Kondisi LDM pernah terjadi dan dilakukan dalam keluarga kami. Hmm.. apakah mudah? adakah tantangannya?
LDM yang Pertama
Awal mula LDM sama suami adalah sejak 7 hari setelah pernikahan kami pada tahun 2016. Saat itu aku sedang melanjutkan pendidikan di kota yang berbeda dengan suami. Sehingga kami harus LDM Bogor - Yogyakarta selama kurang lebih satu tahun.
Bogor - Yogyakarta terbilang masih dekat, atau dengan kata lain masih berada di pulau Jawa, ya kan?. Akses saling mengunjungi via kereta, bus dan pesawat pun masih mudah. Ya, kurang lebih sebulan sampai dua bulan sekali, aku dan suami bisa saling mengunjungi.
Kondisi LDM pertama berlanjut, dan pada saat itu kami memang merencanakan menunda kehamilan. Hal tersebut demi kesehatan juga, karena kuliahku cukup padat. Terlebih LDM dari suami kan, yang kemungkinan akan kewalahan bila hamil saat itu.
LDM yang Kedua
LDM kedua ini terbilang cukup jauh. Meskipun hanya berbatasan laut, pandemi Covid-19 membuatnya terasa sukar untuk saling berkunjung. Ditambah biaya perjalanan dan karantina yang pastinya lebih mahal. Hal tersebut membuat LDM "Jakarta - Canberra" naik tingkatan dari LDM sebelumnya.
Melakukan LDM kembali kali ini bukan karena studi, namun karena pekerjaan. Suami yang bekerja di kedutaan besar dan aku yang berstatus sebagai pegawai negeri sipil (baru jalan tahun ketiga), mengharuskan kami harus berpisah sementara.
Mengantar Suami ke Bandara |
Yang membuat berbeda pula dari LDM sebelumnya adalah anak. LDM kali ini kami sudah memiliki anak. Sehingga terpisah sementara ini aku dan anak, dengan suami/papanya. Sedihkah? Iya dong. Tapi kami harus berkomitmen untuk menjalaninya dengan menyenangkan.
Komunikasi Mudah LDM
Dengan perkembangan teknologi yang maju, komunikasi LDM terbilang mudah. Walaupun tidak bertemu dan bersentuhan secara langsung, setidaknya aku dan anak dapat berkomunikasi dengan suami/papa via telepon dan video call.
Alhamdulillah ya, hanya berbekal kuota dan WiFi, hampir setiap hari pun bisa berkomunikasi. Sangat beda kan dengan keluarga yang LDM pada zaman dulu, mereka harus berkirim surat, dan menelepon pun mesti di warung telepon. Hehe (pengalaman orang tua).
Dengan keadaan yang semakin mudah ini, kami pun harus bersyukur. Kami harus semakin berusaha mencapai tujuan kami dalam LDM ini.
Tujuan LDM Keluarga
Terpisah jarak di keluarga kami, tentu selalu punya tujuan. Tujuan kami adalah untuk membangun keluarga, mencari rezeki halal, dan meningkatkan ketahanan keluarga.
Sehingga kami pun dapat menciptakan keluarga sehat, kuat, dan berkecukupan, serta banyak pengalaman.
LDM telah menjadi pilihan dengan tujuan yang ada. Tetap harapan dalam waktu dekat untuk bersama di negara yang sama pun ada. Entah dari studi lagi atau rezeki lainnya.
Perjalanan Baru Pun Dimulai
Dengan adanya LDM again ini, perjalanan baru pun dimulai. Setiap keluarga pasti hendak berjalan maju ke depan. Berpindah dari satu level ke level lainnya. Semoga saja niat dan kerja keras kami saat LDM akan berbuah pengalaman di setiap langkah baru pada perjalanan ini.
Sekian cerita ini aku buat. Semoga bisa melanjutkan cerita LDM keluarga kami di tulisan berikutnya.
Semangat terus ya Kakak. Ini pasti tidak mudah, tapi insya Allah berbuah manis kelak.
BalasHapusGa kebayang kalau harus menjalani LDM juga dengan anak, lah Suami ke luar kita seminggu aja anakku udah kangen bapaknya terus, Salut kak, semangaat yaa semoga Allah selalu menguatkan
BalasHapusAku juga pernah kak LDM sama suami, pastinya berat buat LDM sama suami, semangat ya mom
BalasHapusLdm penuh tantangan ya mbak...semoga tetap kuat bahagia dan berkah dalam menghadapinya bersama.
BalasHapusAku juga pernah LDM nih mbak, Bali - Lommbok, Bali - Medan, tapi nggak sampek bertahun-tahun siy, haha..
BalasHapusBtw, semoga bahagia dan langgeng terus ya mbak, semoga juga bisa selalu dikasih sabar karena LDM, aamiin..
semangat terus mbak.bapak ibu saya juga ldm sampai saya berusia 17 tahun. jaman saya masih kecil komunikasi susah banget, kalau mau denger suara bapak harus mampir dulu ke wartel hehe. beryukur banget sekarang sudah ada teknologi yang bisa selalu mendekatkan. semoga langgeng dan bahagia terus ya.
BalasHapusHuhuhu aku pun dlu smpet LDM lombok semarang mba, mana pas abis lahiran, bner² perjuangan ya
BalasHapusSebelum nikah aku udah dikasih tau kalo bakal LDM. Rasanya sedih, padahal belum kejadian.
BalasHapusPas sudah dijalani, jadi tambah sedih karena rasanya berat huhu... Ini aja karna lagu Corona, suami WFH jadi terobati rasanya. Siap2 kalo kerja sudah normal lagi, LDM again deh sama kayak kak Arum
Semangat mba Arum. Sebelum jadi istri aku LDR jga haha seetelah jadi istri ngikut mertua. Sedap-sedap rindu ya Mba hehehe.
BalasHapusKeluarga saya belum pernah mengalami LDM mbak, paling dulu sih waktu ayah saya harus nginep di luar kota untuk ikut kegiatan training kantoran gitu :)
BalasHapusBaru nikah udah LDM luarbiasa banget. Aku juga dulu pernah berfikir pengen seperti itu tapi gak jadi.
BalasHapusSemangat ya Bu. Semoga terkandung hikmah dan anugrah dengan LDM ini. Kalau saya dulu bekerja di Perkebunan dan kehutanan hingga saat ini, bertemu 6 bulan sekali. Setelah berjalan sekitar 15 tahun, baru bisa berkumpul keluarga dan sesekali dinas dan bertemu sebulan sekali.
BalasHapus